Senin, 26 Januari 2009

aku dengan jiwa perlawanan

aku takut dan enggan menulis ini dengan jiwa yang berkobar melalui dada seorang manusia melibatkan percikan diri yang membuatnya muntah dengan segala isi didalamnya. aku seakan terus berjuang melawan arah, aku bukan seorang komunist yang tak beragama atau pun seorang yang sedang mencari jati diri dalam pencarian makna akan tuhan bagiku. aku seorang pelancong, penggembara, berfikir dari tempat ke tempat dari desa ke desa lain dari kota ke kota lain, aku tahu akan teologi yang mengkurung makna dan pembebasan, aku selalu suka pantai yang menabur luas kebebasan, aku selalu suka malam yang membuat gelap dan berusaha menyadarkan manusia dari padanya yang senantiasa menjauh dari gelap nya bahaya malam. aku selalu berlawanan arah dengan arus, dengan mata angin, dengan arah jarum jam, dengan kata, dengan warna, dengan apa yang dihadapan ku.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Coba dicek apakah semasa di kandungan atau balita ada semacam penolakan dari orang tua atau kerabat. Penolakan sering kali (artinya: tidak selalu) menyebabkan pemberontakan.

tito mengatakan...

dalam suatu permasalahan memang begitu, tetapi coba kawan kaji sendiri dari mana asal seorang pemberontak itu muncul, dari kebahagiaan kah??? atau dari penderitaan dan ketertindasan, yang mana kita mau bela? yang tertindas kah atau yang berbahagia dengan kebebasannya sendiri, memang penolakan memang tidak selalu menyebabkan pemberontak mereka yang terus terkungkung dalam perasaan tersebut suatu saat akan meledak dan tidak terbendung dan bisa menyebabkan penyakit kejiwaan yang teramat parah. berawal dari bullying hingga ke psikopat.

Anonim mengatakan...

ini katarsis? sepertinya menarik

tito mengatakan...

untuk kawan frozen,

katarsis teh naon???
salam,
makasih udah mau mampir....

bagaimana dengan manusia keparat ini yang ikut bimbang dengan mereka??