aku sekarang ada di kota yang sepi dan jauh dari keramaian..
cuman itu sangat berbenturan kawan, yang aku kira hanya sebuah kota yang sepi kini aku dengar tawa orang-orang mabuk yang bersendawa denga alkohol dan menikmati lagu yang tengah mereka bawakan dengan alunan yang tidak pas dan menurutku fals.
aku tersingkir kehadapan mukaku sendiri yang biasa menuliskan ini, aku serasa enggan untuk kesana dan bergabung dengan mereka yang menurutku sungguh kampungan, mengagungkan figur artis yang sama-sama manusia lemah seperti kita,
naif memang kawan, tapi aku juga jemu dan menurutku sungguh munafik memang, tapi alangkah baiknya untuk tidak berlebihan sepeti itu.
aku sekarang mulai pegal, dan ingin berhenti, tapi kalau ini berhenti, serua mulutku terus saja mengoceh dan orang-orang akan memaki ku.
aku rindu akan keseharian kita
ngopi,
debat,
nongkrong depan sambil melihat kota bandung,
atau hanya sekedar ngobrol biasa,
aku serasa tidak punya kawan disini teman, semua yang kuajak berbincang, semuanya bisu dan tuli tak mendengar, seperti kuping mereka sudah dicocoki sesuatu yang tidak bisa menerima kebebasan seperti layaknya kita yang bergaung freedom.
mungkin bagi mereka yang sedang menindas, terlihat jelas akan kebenaran yang mereka utarakan dan yang mereka teriakan..
muak kawan,,
aku serasa sendiri, dan menelan pahit nya menjadi seorang yang ikut merasakan hidup mereka kawan..
tidak kah kau ingat, seorang pengamen yang sedang mencari kepingan uang di kampus kita, menurutku itu suatu bukti kongkrit akan cacat nya moral penguasa negeri kita ini, menurut ku itu sangat perlu akan jalannya pemerintahan ini.
dan kita harus mengawasi orang kolot yang tengah duduk enak di istana kerajaan indonesia, dengan semua fasilitas yang di berikan rakyat kecil. memang benar kita selaku yang ikut brjuang di pihaknya tengah mencari arti kata kebenaran, yang menurutku itu semu dan sangat menjemukan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar