Rabu, 28 Januari 2009
antara cinta yang tak stagnan
aku, berdawai gitar dengan nilon yang kusut, kau bergendang tak berselaput kulit, kau putih dan aku hitam apakah bisa menyatu? kau air dan aku minyak, hingga kau panas oleh suhu ku yang mudah sekali terbakar, tercemar hingga ternodai oleh busuknya minyak. kau begitu putih dan suci tanpa tertera sikap tak indah dari paras yang begitu lugu, hingga mereka yang terpana mati dalam kurung jiwa terus membunuh secara perlahan dengan pasti, penaku pun hingga tak kuasa menyiratkan goresan wajahmu yang begitu menawan memenjarakan hakikat lelaki normal hingga begitu takluknya, mengkin bukan begitu kagum dan kasmaran, tetapi cinta yang terlontar hingga tanpa berpikiran kembali akan raut wajah yang menjanjikan akan surga padanya olehku. terlintas ku berkaca kembali pada kehidupan yang begitu semu akan aku mendambakan cinta yang begitu ketimpangan diantara kamu, bidadari dan aku. aku ingin kau menjadi hitam, menjadi minyak, dan tak seindah bunga, janga sekali-sekali kau membuat itu, karena patahmu adalah aku yang ikut rampung. aku seorang chaos pembuat onar diantara kau sang pendamai jiwa. untuk mu yang berada di senja hidupku menjelang matahari yang hilang dengan sunsetku.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar